Siapa yang tidak tahu dengan istilah
PLN? Pasti kita sudah mengetahui apa kepanjangan dari PLN, yaitu Perusahaan
Listrik Negara. Kabar yang disebarkan dari bulan Desember 2014 yang lalu
akhirnya dapat terealisasi juga, meskipun tidak sesuai dengan janji pertama
kalinya. Info pertama masuknya PLN, awal Januari 2015, akan tetapi terbukti
akhir Januari 2015. Mungkin hal itu terjadi karena kendala-kendala dari yang
bersangkutan, baik persediaan tiang yang akan dipasang, atau kemungkinan dari
pekerjanya atau hal lain, yang pasti kita berpikir positif saja. Meskipun ada
sedikit rasa kecewa menyelimuti hati sebagian orang, yah namanya juga manusia
yang mempunyai hati yang sering diingkari dengan janji-janji. Untuk itu sebagai
manusia yang baik, kalau kita berjanji kepada siapapun, harus berusaha kita
tepati, jangan meremehkan janjimu. Dan jika kita berada pada kondisi orang yang
diberi janji, kita juga harus berusaha berpikir positif seandainya orang
tersebut mengingkari janji tersebut. Dengan begitu dirimu akan selalu merasa
baik-baik saja. Lho, bagaimana kalau sering diingkari? Yah, untuk lain kali
jangan mudah percaya lagi. Setuju tidak?!! Kita kembali ke masalah PLN
yah...hehe
Akhirnya PLN masuk juga ke kompleks perumahan
saya berdomisili. Hore..hore..hore..hee..Alhamdulillah!!!...
Setelah masuknya aliran
listrik PLN ke perumahan tersebut, ada hal yang tampak berbeda dari biasanya
sebelum PLN masuk. Dan sekarang pengisian daya listriknya memakai sistem
“pulsa”. Hal yang berbeda yang saya amati adalah, sekarang terlihat
“penghematan” dalam pemakaian arus listrik. Dahulu, saat perumahan tersebut
mendapatkan jatah listrik dari pihak tertentu, tampak pada malam hari kondisi
seperti pada umumnya. Perumahan dan sekitarnya diterangi dengan listrik yang
disediakan. Namun, sekarang terlihat tidak semua penerangan dihidupkan seperti
dahulu, ada bagian-bagian tertentu yang tidak mendapatkan penerangan lagi atau
dalam artian lain, tidak semua sumber arus listrik (lampu) dinyalakan baik yang
terletak di perkantoran sekitar perumahan maupun dari setiap rumah-rumah yang
ada di sana. Hal itu merupakan proses dari “penghematan”. Ditambah lagi proses
pembayaran yang untuk saat ini ditanggung sendiri melalui pembayaran sistem
pulsa. Kalau dahulu, kita bebas menggunakan arus listrik, tanpa harus melakukan
penghematan, karena ditanggung oleh pihak tertentu, meskipun proses penyalaan
dibatasi waktu. Dari ulasan kejadian ini, tampaklah sifat manusia yang selama
ini secara sadar atau tidak terjadi pada kebanyakan kita bahwa dalam
memanfaatkan sesuatu, baik itu benda, fasilitas, dan sebagainya yang disediakan
secara gratis, kita sering bertindak sesuka kita tanpa berpikir dalam
memanfaatkan yang telah tersedia tersebut. Berpikir, mungkin, dalam hal
menghemat, menjaga atau tidak merusaknya. Sedangkan pada saat “sesuatu” itu
benar-benar berasal dari kantong sendiri, baru kita berusaha untuk menjaganya. Untuk
itu, marilah kita selalu membiasakan diri menjaga segala sesuatu yang telah
disediakan bagi kita, baik bersifat umum atau pribadi. Sehingga kita memiliki
sikap bertanggungjawab atas hal apa yang kita lakukan.
Kembali ke masalah
“penghematan” listrik yang terjadi sekarang di perumahan tersebut. Kalau
berbicara masalah “penghematan” itu tidak salah, malah menurut saya, berhemat
merupakan hal yang baik. Ingatkan kata pepatah “Hemat Pangkal kaya”? Berhemat
merupakan perbuatan yang baik, tapi yang perlu kita ketahui, bahwa berhemat itu
bukan berarti pelit lho....nanti mentang-mentang mau berhemat, mau membeli atau
melakukan sesuatu tidak jadi atau tidak boleh, kan mau berhemat
ceritanya...hehee.... berhemat atau lebih sering disebut sederhana adalah
membeli sesuatu sesuai kebutuhan, sedangkan pelit adalah tidak mau membeli,
sekalipun untuk kebutuhan sendiri. Dalam hal ini kita patut meniru “cara ayam
makan”. Coba kalau kita lihat ayam makan, meskipun diberi beras atau jagung
sekarung, ayam hanya akan makan sesuai porsi temboloknya. Jadi, bagaimana
mengetahui porsi “tembolok” masing-masing? Prinsipnya, adalah setiap kita harus
bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Berharap, dengan
masuknya PLN, dapat memanfaatkannya untuk hal-hal yang berguna. Semangat!
Hadirnya pelita, bisa membawa kemanfaatan tersendiri yang tentunya bernilai
positif. J